Putusan Nomor : 72831/PP/M.IIIA/99/2016
| Jenis Pajak | : | Gugatan |
| Tahun Pajak | : | 2011 |
| Pokok Sengketa | : | bahwa yang menjadi pokok sengketa adalah penerbitan Keputusan Tergugat Nomor KEP-3280/ WPJ.11/2015 tanggal 15 Oktober 2015; |
| Menurut Tergugat | : | bahwa Tergugat menerbitkan Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Berdasarkan Pasal 36 Ayat (1) Huruf b Karena Permohonan Wajib Pajak sebagai suatu beschiking awal dan tidak terdapat beschiking lagi sebagai pelaksanaan beschiking awal tersebut; |
| Menurut Penggugat | : | bahwa dengan surat Penggugat Nomor 135/DIR/GBP/IX/2014 tanggal 23 September 2014, Penggugat telah mengajukan permohonan pengurangan atau pembatalan SKPKB Pajak Pertambahan Nilai untuk Masa Pajak Agustus 2011 dan telah diterbitkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-758/ WPJ.11/2015 tanggal 17 Maret 2015 yang menolak permohonan Penggugat; |
| Menurut Majelis | : | bahwa berdasarkan pemeriksaan Majelis atas berkas gugatan dan penjelasan para pihak dalam persidangan, diketahui bahwa sengketa gugatan ini terdiri dari : Sengketa Formal GugatanSengketa Materi Gugatan.Sengketa Formal Gugatanbahwa menurut Tergugat, Keputusan Nomor KEP-3280/WPJ.11/2015 tanggal 15 Oktober 2015 tentang Pembatalan Ketetapan Pajak atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar BerdasarkanPasal 36 Ayat (1) Huruf b Karena Permohonan Wajib Pajak bukan merupakan objek yang dapat diajukan gugatan sebagaimana diatur dalam Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang tentangKetentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dan Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak. bahwa menurut Tergugat, yang dapat diajukan gugatan adalah keputusan (beschiking) sebagai pelaksanaan dari keputusan perpajakan (beschiking), sedangkan dalam sengketa ini Tergugat menerbitkan Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Berdasarkan Pasal 36 Ayat (1) Huruf b Karena Permohonan Wajib Pajak sebagai suatu beschiking awal dan tidak terdapat beschiking lagi sebagai pelaksanaan beschiking awal tersebut. bahwa menurut Penggugat, KEP-3280/WPJ.11/2015 adalah suatu keputusan yang terhadapnya dapat diajukan gugatan sesuai Pasal 23 ayat (2) huruf c Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cata Perpajakan, oleh karena berdasarkan pengertian tentang Keputusan sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Pengadilan Pajak, KEP-3280/WPJ.11/2015 merupakan keputusan atas pengajuan permohonan pengurangan atau pembatalan Surat Ketetapan Pajak yang tidak benar yang kedua atas SKPKB PPN untuk Masa Pajak Juli 2011 yang Penggugat ajukan, dan telah diputuskan oleh Tergugat untuk menolak pengajuan permohonan Penggugat tersebut. bahwa menurut Penggugat, KEP-3280/WPJ.11/2015 bukan keputusan yang berkenaan dengan ketentuan Pasal 25 ayat (1) dan Pasal 26 Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cata Perpajakan, dengan demikian memenuhi syarat sebagai suatu keputusan yang terhadapnya dapat diajukan gugatan sebagaimana diatur dalam Pasal 23 ayat (2) huruf c Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cata Perpajakan. bahwa menurut Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara: Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata. bahwa menurut Majelis, berdasarkan ketentuan a quo, terdapat lima unsur Keputusan Tata Usaha Negara, yaitu: Penetapan tertulis;Dibuat oleh Pejabat Tata Usaha Negara;Mendasarkan diri kepada peraturan perundang-undangan;Memiliki 3 (tiga) sifat tertentu (konkrit, individual dan final);Akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata;bahwa berdasarkan ketentuan a quo Majelis berpendapat bahwa Keputusan Tergugat Nomor KEP-3280/WPJ.11/2015tanggal 15 Oktober 2015 adalah keputusan yang diterbitkan oleh Tergugat, yang merupakan penetapan/keputusan secara tertulis, yang diterbitkan oleh Pejabat yakni Direktur Jenderal Pajak yang mempunyai kewenangan untuk menerbitkan surat tersebut, didasarkan pada Undang-Undang yang berlaku, dengan demikian bersifat konkret, hanya ditujukan kepada Penggugat (individual), danbersifat final karena tidak lagi memerlukan persetujuan dari instansi atasan atau instansi lain,serta mempunyai akibat hukum bagi Penggugat (badan hukum perdata), oleh karena itu menurut Majelis surat tersebut merupakan keputusan dari Tergugat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 3 Undang-UndangNomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. bahwa sesuai Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak Pasal 31 Ayat (3), disebutkansbb : Pengadilan Pajak dalam hal Gugatan memeriksa dan memutus sengketa atas pelaksanaan penagihan Pajak atau Keputusan pembetulan atau Keputusan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 dan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku bahwa menurut Majelis, oleh karena keputusan Tergugat tersebut merupakan keputusan yang terkait dengan keputusan Tergugat sebelumnya, yaitu Keputusan Tergugat Nomor KEP-756/WPJ.11/2015 tanggal 17 Maret 2015 tentang pembatalan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar PPN Masa Pajak Agustus 2011 Nomor 00041/207/11/611/14 tanggal 26 Juni 2014, maka hal tersebut dapat dimaknai bahwa keputusan Tergugat tersebut adalah termasuk dalam pengertian keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan keputusan perpajakan, selain yang ditetapkan dalam Pasal 25 ayat (1) danPasal 26, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Sebagaimana Telah DiubahTerakhir Dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 (UU KUP), yang menyebutkan: Gugatan Wajib Pajak atau Penanggung Pajak terhadap keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan keputusan perpajakan, selain yang ditetapkan dalam Pasal 25 ayat (1) dan Pasal 26; …. dst bahwa berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut di atas, maka Majelis berpendapat, bahwa Keputusan Tergugat Nomor KEP-3280/WPJ.11/2015 tanggal 15 Oktober 2015 adalah Keputusan Tergugat yang merupakan obyek gugatan, sehingga dapat diajukan gugatan kepada Pengadilan Pajak, sebagaimana ketentuan Pasal 23 ayat (2) huruf c a quo. Sengketa Materi GugatanKoreksi Positif Penjualan Condotel The QQ Bali bahwa berdasarkan pemeriksaan Majelis atas berkas gugatan, dan penjelasan para pihak di dalam persidangan, diketahui bahwa yang menjadi pokok sengketa dalam perkara gugatan ini adalah mengenai penerbitan Keputusan Tergugat Nomor KEP-3280/WPJ.11/2015 tanggal15 Oktober 2015 tentang Pembatalan Ketetapan Pajak atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Berdasarkan Pasal 36 ayat (1) Huruf b Karena Permohonan Wajib Pajak yang tidak disetujui Penggugat bahwa Tergugat melakukan koreksi positif atas penyerahan yang PPN-nya harus dipungut sendiri oleh Penggugat sebesar Rp1.196.157.975,00 diatas, bersumber dari penjualan kondotel QQ dengan dasar koreksi dari keterangan pihak ke-3, yaitu hasil konfirmasi dengan PT AAA (Persero), Tbk sebagaimana tercantum dalam Surat Nomor SBL/6/1754 tanggal 24 Maret 2014, dan dari hasil konfirmasi dengan pembeli Kondotel The QQ dengan rincian sebagai berikut: NoUraian Koreksi atas Penjualan Kondotel QQMenurut SPT Penggugat (Rp)Cfm Pemeriksa (Rp)Koreksi (Rp)1 Konfirmasi dari Bank AAA-1.162.700.0001.162.700.0002 Konfirmasi dari Pembeli QQ-33.457.97533.457.975 Total – 1.196.157.9751.196.157.975 bahwa Tergugat telah melakukan konfirmasi ke Bank AAA atas Surat dari Bank AAA Nomor SBL/6/1754 tanggal 24 Maret 2014 dan surat Nomor SBL/6/3689 tanggal 25 Juni 2014, dan berdasarkan hasil konfirmasi, diperoleh informasi bahwa kedua dokumen tersebut adalah benar (sesuai dengan Berita Acara Pembahasan Klarifikasi Perpajakan Nomor BA-26/WPJ.11/BD.06/ 2015). bahwa menurut Tergugat, berdasarkan ketentuan Pasal 17 ayat (3) huruf b UU PPN, disebutkan bahwa penyerahan Barang Kena Pajak berwujud yang menurut sifat atau hukumnya berupa barang tidak bergerak, terjadi pada saat penyerahan hak untuk menggunakan atau menguasai Barang Kena Pajak berwujud tersebut, secara hukum atau secara nyata, kepada pihak pembeli, dan dijelaskan juga dalam penjelasan pasal tersebut, bahwa Penyerahan Barang Kena Pajak untuk Barang Kena Pajak tidak bergerak terjadi pada saat surat atau akta perjanjian yang mengakibatkan perpindahan hak atas barang tersebut ditandatangani oleh para pihak yang bersangkutan. Saat tersebut menjadi dasar penentuan saat terutang Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. bahwa berdasarkan ketentuan a quo, Tergugat berpendapat bahwa telah terjadi penyerahan sebesar nilai KPR yang disetujui pada saat perjanjian kredit ditandatangani, sehingga terutang PPN sebesar nilai KPR yang telah disetujui. bahwa menurut Penggugat, koreksi Tergugat didasarkan pada data dari Bank AAA, namun ralat data yang disampaikan dari Bank AAA tidak dipertimbangkan oleh Tergugat, karena data tersebut merupakan kredit refinancing yang digunakan untuk kepentingan pribadi dan tidak digunakan untuk pembayaran unit apartemen. bahwa Penggugat dalam proses keberatan menyampaikan dokumen berupa surat dari Bank AAA Nomor SBL/6/3689 tanggal 25 Juni 2014 tentang Pemenuhan Permintaan Keterangan/Bukti, yang didalamnya mencantumkan para debitur terkait kepemilikan apartemen The QQ dan nilai pencairannya, namun data tersebut tidak dipertimbangkan oleh Tergugat. bahwa data yang diperoleh dari Bank AAA tersebut merupakan kredit refinancing yang diajukan oleh Dr Harijanto sebesar Rp1.162.700.000,00 untuk kepentingan pribadi dan tidak digunakan untuk pembayaran unit apartemen; bahwa kredit tersebut diajukan dengan menggunakan fasilitas kredit unit apartemen the rich prada dan dilakukan dengan sepengetahuan Penggugat, adapun kredit yang diberikan adalah sebesar Rp938.295.000,00; bahwa masing-masing konsumen yang melakukan kredit refinancing tersebut sebelumnya telah membeli unit apartemen dan membayar harga jual beli yang sudah disepakati dengan PT. BBB, yaitu sebesar Rp400.000.000,00 per unit dan atas harga transaksi tersebut Penggugat telah melaporkan di dalam SPT Masa Agustus 2011; bahwa berdasarkan pemeriksaan Majelis dan uraian fakta-fakta di persidangan, Majelis berpendapat bahwa koreksi yang dilakukan oleh Tergugat adalah dengan menghitung PPN terhutang berdasarkan penyerahan sebesar nilai KPR yang disetujui pada saat perjanjian kredit ditandatangani. bahwa dasar hukum yang digunakan oleh Tergugat adalah ketentuan Pasal 17 ayat (3) huruf b UU PPN beserta penjelasannya yang pada intinya menyatakan bahwa penyerahan Barang Kena Pajak berupa barang tidak bergerak terjadi pada saat surat atau akta perjanjian yang mengakibatkan perpindahan hak atas barang tersebut ditandatangani oleh para pihak yang bersangkutan, dimana saat tersebut menjadi dasar penentuan saat terutang PPN. Oleh karena itu Tergugat menghitung PPN terhutang berdasarkan nilai KPR yang disetujui pada saat perjanjian kredit ditandatangani. bahwa perhitungan koreksi Tergugat hanya didasarkan pada data dari pihak ketiga yaitu Bank AAA dan hasil konfirmasi dari pembeli, dan tidak mempertimbangkan data yang disampaikan oleh Penggugat dalam proses keberatan antara lain dokumen berupa surat dari Bank AAA Nomor SBL/6/3689 tanggal 25 Juni 2014 tentang Pemenuhan Permintaan Keterangan/Bukti, yang didalamnya mencantumkan para debitur terkait kepemilikan apartemen The QQ dan nilai pencairannya. bahwa sesuai Pasal 76 UU 14 Tahun 2002 : Hakim menentukan apa yang harus dibuktikan, beban pembuktian beserta penilaian pembuktian dan untuk sahnya pembuktian diperlukan paling sedikit 2 (dua) alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1). bahwa di dalam penjelasan Pasal 76 dinyatakan bahwa Pasal ini memuat ketentuan dalam rangka menentukan kebenaran materiil, sesuai dengan asas yang dianut dalam Undang-undang perpajakan. Oleh karena itu, Hakim berupaya untuk menentukan apa yang harus dibuktikan, beban pembuktian, penilaian yang adil bagi para pihak dan sahnya bukti dari fakta yang terungkap dalam persidangan, tidak terbatas pada fakta dan hal-hal yang dia jukan oleh para pihak. Dalam persidangan para pihak tetap dapat mengemukakan hal baru, yang dalam Banding atau Gugatan, Surat Uraian Banding, atau bantahan, atau tanggapan, belum diungkapkan ….. dst bahwa berdasarkan ketentuan a quo dan penjelasan penggugat, Majelis berpendapat bahwa data-data terkait koreksi Tergugat yang disampaikan oleh Penggugat yang tidak dipertimbangkan oleh Tergugat di dalam proses keberatan, tetap dapat dipertimbangkan oleh Majelis di dalam persidangan banding ini. bahwa berdasarkan data dari Penggugat, harga jual condotel per unit adalah Rp400.000.000,00, jumlah kredit yang disetujui oleh Bank untuk konsumen tersebut adalah sebesar total Rp938.295.000,00, namun koreksi Tergugat dihitung sesuai nilai kredit (KPR) sebesar Rp1.162.700.000,00, yang merupakan nilai pengajuan kredit dari konsumen tersebut. bahwa sesuai Pasal 1 angka 17 dan 18 UU RI Nomor 42 Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, disebutkan sbb : Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau nilai lain yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang.Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalamFaktur Pajak.bahwa merujuk pada ketentuan a quomenurut Majelis, PPN terhutang dalam sengketa penjualan condotel ini seharusnya dihitung sesuai harga jual condotel, namun Tergugat telah salah menggunakan angka pengajuan kredit sebagai koreksi PPN terhutang, dengan demikian Majelis berpendapat bahwa koreksi Tergugat tidak dapat dipertahankan. bahwa Pasal 69 ayat (1e) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajakmenyatakan sebagai berikut. Alat bukti dapat berupa “pengetahuan hakim”, yang di Pasal 75 disebutkan adalah hal yang olehnya diketahui dan diyakini kebenarannya. bahwa berdasarkan Pasal 78 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak disebutkan : Putusan Pengadilan Pajak diambil berdasarkan hasil penilaian pembuktian, dan berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang bersangkutan, serta berdasarkan keyakinan Hakim. bahwa menurut memori penjelasan pasal 78 Undang-undang Nomor 14 tahun 2002 tentang Pengadilan Pajakdisebutkan: Keyakinan Hakim di dasarkan pada penilaian pembuktian dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan. bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan dan penilaian Majelis atas bukti-bukti dan keterangan yang diberikan oleh para pihak yang terungkap di dalam persidangan serta peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku, Majelis meyakini bahwa dalil Penggugat sudah benar; |
| Menimbang | : | bahwa berdasarkan hasil penilaian pembuktian, Majelis berkesimpulan untuk mengabulkan seluruhnya Gugatan Penggugat; |
| Mengingat | : | Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, dan ketentuan perundang-undangan lainnya serta peraturan hukum yang berlaku dan yang berkaitan dengan perkara ini; |
| Memutuskan | : | Mengabulkan seluruhnya Gugatan Penggugat terhadap Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-3280/WPJ.11/2015 tanggal 15 Oktober 2015, tentang Pembatalan Ketetapan Pajak atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Berdasarkan Pasal 36 ayat (1) Huruf b Karena Permohonan Wajib Pajak, atas nama XXX; Demikian diputus di Surabaya berdasarkan musyawarah setelah pemeriksaan dalam persidangan dicukupkan pada hari Rabu tanggal 11 Mei 2016 oleh Hakim Majelis IIIA Pengadilan Pajak dengan susunan Majelis sebagai berikut: Dr. AB, S.H., M.H., M.Si, Sebagai Hakim Ketua,M.Z. BA, S.H., M.Kn.Sebagai Hakim Anggota,BB, S.E., S.H., M.M., M.H., C.Fr.A Sebagai Hakim Anggota,Yang dibantu oleh Drs. BC, M.Si.,Sebagai Panitera Pengganti. Putusan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum oleh Hakim Ketua Majelis IIIA Pengadilan Pajak pada hari Kamis tanggal 4 Agustus 2016 dengan dihadiri oleh para Hakim anggota, Panitera Pengganti, serta tidak dihadiri oleh Penggugat dan dihadiri oleh Tergugat; |

